Dianggap Berutang Rp 12 Juta, Ibu di Purbalingga Tak Boleh Bawa Pulang Anaknya

49e0635a-4d8a-434e-b348-b0451f2e02bb_169

Purbalingga – Lia Nurvita (18) warga Desa Pesawahan Kecamatan Teluk, Banyumas, Jawa Tengah terpaksa melaporkan tantenya Mukhrimah (40) yang merupakan adik dari ibunya ke Polres Purbalingga. Sebabnya, Mukhrimah setelah menahan anak Lia, Safira Talita Zahra yang baru berumur 15 bulan karena Lia tidak bisa membayar uang Rp 12 Juta yang dianggap sebagai biaya utang saat persalinannya.

Kejadian tersebut berawal saat Lia yang hamil dibantu biaya persalinannya oleh sang tante yang saat itu tengah berada di luar negeri. Bantuan biaya persalinan itu dikirimkan pada kerabatnya untuk kebutuhan Lia. Setelah itu, selama 15 bulan Lia dan anaknya tinggal di Teluk hingga pada tanggal 3 Februari kemarin, Lia dan anaknya datang menuju Purbalingga untuk menghadiri pemakaman kerabatnya di desa Jatisaba.

Namun, setelah dua hari berada di rumah tantenya di Desa Jatisaba, Kecamatan Bojong, Purbalingga tersebut, anak Lia tidak diizinkan ikut pulang ke Purwokerto. Mukhrimah mengingatkan Lia mempunyai utang Rp 12 juta dari biaya persalinan dulu.

Betapa kagetnya Lia saat biaya persalinan yang dulu dianggapnya sebagai bantuan, setelah sang suami pergi tanpa ada kabar ternyata diungkit kembali dan harus dikembalikan. Jika tidak, anaknya tetap berada di tangan tantenya tersebut sebagai jaminan.

“Saya di sana (Purbalingga) sekitar dua hari, waktu saya mau pulang, sama tante anak saya tidak boleh ikut pulang, katanya ada uang anak boleh dibawa pulang. Alasannya uang biaya persalinan aku dulu waktu lahiran, ada susu, ada pempers, bedak, macem-macem, padahal waktu itu dia niatnya bantu, saya tidak pinjam. Katanya kalau ada uang anak bisa dibawa pulang, ditotal semua Rp 12 juta,” jelas Lia saat berada di Polres Purbalingga, Jumat (12/2/2016).

Didampingi kuasa hukum dan pamannya, wanita muda itu melaporkan kasus dugaan penyanderaan anaknya tersebut ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Purbalingga. Kepada Polisi, Lia menjelaskan kasus dugaan penyanderaan anaknya yang terjadi pada Rabu (3/3) pekan lalu.

“Saya sudah meminta baik-baik secara kekeluargaan, tapi anak saya tetap tak dibalikin,” jelasnya saat melapor.

Setelah menerima laporan, satuan Unit Reskrim Polres Purbalingga segera menuju rumah Mukhrimah di desa Jatisaba. Namun, saat polisi tiba di rumah tersebut tidak mendapati Safira. Hanya ada adik Mukhrimah dan keluarganya yang memang tinggal di rumah tersebut.

“Safira sudah dibawa Mbak Mukhrimah dan Yani ke Malang tadi sekitar jam 14.00 WIB,” kata penghuni rumah yang tidak ingin disebutkan namanya.

Dia mengatakan jika Safira memang berada di rumah tersebut selama sepekan ini, tapi karena Mukhrimah berencana berangkat kerja menjadi TKI di Hongkong, Safira dibawa ke rumah kerabatnya di Malang.

Kasat Reskrim Polres Purbalingga, AKP Djunaedi yang memimpin langsung penjemputan mengatakan, karena Safira sudah dibawa ke luar kota maka pihaknya akan mengirim tim penjemputan ke kota Malang.

“Ini penguasaan terhadap anak di bawah umur dari orang tua sah, upaya polisi akan mengirim tim ke sana (malang) dan saya rasa pihak keluarganya kooperatif, jadi kalau ga dijemput ke Malang ya nanti bisa diatur ketemu di tengah tengah, Jogja misalnya,” kata Djunaedi yang belum berani menyimpulkan kasus tersebut adalah penyanderaan.

Sementara menurut kuasa hukum Lia, Djoko Susanto menganggap kasus tersebut bisa dikategorikan penyanderaan karena yang bersangkutan meminta tebusan sejumlah uang kepada kliennya.

“Tantenya meminta uang dengan alasan yang kami anggap tak masuk akal. ini sudah masuk kategori perbuatan melawan hukum yang diatur dalam undang-undang perlindungan anak,” jelas Joko.

sumber detik

agen poker

Share

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *